Kode Etik Dakwah Gaya Rasulullah SAW

[ad_1]

Fakultas Dakwah di Unversitas Islam Bandung (Unisba) adalah satu fakultas yang menekuni kedakwahan dengan Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, yang dapat melahirkan sarjana yang memiliki keahlian sesuai disiplin keilmuan yaitu sarjana yang memiliki paradigma dakwah luas, luwes, jelas, serta tegas dan menguasai media komunikasi sehingga gerakan dakwah di Indonesia lebih humanis dan sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dakwah yang komunikatif dan komunikatif dalam dakwah sebagaimana Rasulullah Saw.

Proses dakwah tidak hanya usaha penyampaian, tetapi juga usaha mengubah way of thinking, way of feeling and way of life manusia sebagai sasaran dakwah ke arah kualitas kehidupan yang lebih baik.

Proses dakwah melibatkan berbagai faktor yang saling terkait yang disebut dengan sistem dakwah yaitu hubungan antar faktor dakwah yang terdiri dari subyek dakwah, obyek dakwah, metode dakwah, media dakwah, materi dakwah dan tujuan dakwah. Faktor‐ faktor tersebut membentuk sistem yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya (QS An‐Nahl: 125. Sistem itu bermuara pada tujuan dakwah yaitu tertanamnya nilai‐nilai Islam pada masyarakat dan terinternalisasi nilai‐nilai Islam pada masyarakat berupa perilaku keislaman (Nur Syam, 1991:9). Materi dakwah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan menggunakan metode yang tepat mampu mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat ke arah kehidupan yang dijiwai agama.

Dakwah hendaknya dilakukan dengan terus-menerus. Setiap dai perlu melakukan pengkajian untuk mengamati keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan dakwah, demikian ungkapan Bisri Affandi dalam Nur Syam, 1991: 12).

Dakwah itu dapat disebut berhasil apabila seorang yang bukan Muslim sudah menjadi Muslim dan seorang yang Muslim sudah menjalankan syariat Islam sesuai dengan QS Fushshilat: 34.

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba‐tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah‐olah telah menjadi teman yang sangat setia.”

Selain itu, keberhasilan dakwah dapat diketahui pula dari jumlah orang yang masuk Islam dan yang patuh pada Islam. Sebagaimana keberhasilan Nabi Muhammad selama 23 tahun dakwah dapat menghasilkan 14.000 orang, dan rata‐rata tiap tahun dapat mengislamkan 4.956 Orang, sedangkan bila dihitung per hari rata‐rata 13 orang kafir masuk Islam, (Muhammmad ajjaj al‐Khatib, 1981 :400‐4002).

Pernyataan tersebut dikuatkan oleh A Hasjimy (1984:8) Dakwah Rasulullah Saw dalam waktu 23 tahun telah dapat mengubah masyarakat Arab Jahiliyah mejadi Mukmin dan Muslim yang rajin beramal saleh, juga mampu mengubah umat Persi, umat Romawi, umat Qibti, umat Barban, umat Turki, dan sebagainya. Salah satu yang menjadi faktor keberhasilan dakwah Rasulullah SAW adalah merumuskan etika dakwah sendiri.

Dakwah Nabi SAW menyusun aturan‐aturan yang dikenal dengan etika dakwah. Secara umum, etika dakwah adalah etika Islam itu sendiri. Seorang dai sebagai seorang Muslim dituntut untuk memiliki etika‐etika yang terpuji dan menjauhkan diri dari perilaku‐perilaku yang tercela; secara khusus dalam dakwah Islam terdapat etika tersendiri, yaitu norma dan asas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan ukuran tingkah laku, (Depdikbud. 1988 448. v.kode).

Adapun kode etik dakwah gaya Rasulullah SAW adalah tidak memisahkan antara ucapan dan perbuatan Rasulullah Saw, tidak mencerca sembahan orang lain, tidak melakukan diskriminasi, tidak menjualbelikan ayat Al Quran, tidak mengawani pelaku maksiat, dan tidak menyampaikan hal‐hal yang tidak diketahui.

Uraian di atas tentang kode etik dakwah gaya Rasulullah SAW. Menginspirasi Fakultas Dakwah untuk mengajarkan gaya itu kepada calon dai yaitu para mahasiswa yang penuh semangat mereka belajar agama dengan nilai‐nilai yang di ajarkan Al Quran dan As Sunnah yang terintegrasi pada beberapa mata kuliah keislaman. Harapannya, lahirnya kader‐kader dai yang memiliki iman yang teguh, ilmu yang luas, amal saleh yang banyak sehingga hidupnya memberi manfaat kepada bagi masyarakat, sesuai sabda Nabi SAW, “Sebaik‐baik manusia adalah memberi manfaat kepada banyak orang.” Musnad As‐Shihab al‐Qodhoi (Jilid2: 223). (Dr Komarudin Shaleh Drs Mag, Dekan Fakultas Dakwah Unisba).

Menghasilkan lulusan berakhlakul karimah dan kompeten. Situs web: https://www.unisba.ac.id.

Source link

[ad_2]

Source link

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *