Dakwah dan Modernisme – Advertorial

[ad_1]

Dakwah telah mengalami perubahan dan perkembangan yang pesat. Dakwah tidak hanya diartikan secara praktis seperti tabligh, yaitu penyampaian ajaran Islam secara lisan, seperti ceramah-ceramah di atas mimbar. Perkembangan berikutnya dakwah merupakan refleksi pemikiran para cendekia yang melakukan berbagai analisis sosial, bisa dipahami sebagai upaya pengembangan masyarakat yang dilakukan dalam segala bentuk kegiatan termasuk kegiatan pendidikan dan pembangunan. Persoalan yang  muncul dari perspektif perubahan sosial ini adalah ke arah mana masyarakat akan diubah melalui dakwah. Tentu jawabannya adalah diarahkan pada landasan teologis-normatif bahwa dakwah dan tujuannya adalah upaya untuk merealisasikan ajaran Islam dalam berbagai segi kehidupan manusia, sehingga terwujud masyarakat yang Islamis diridai Allah swt.

Gerakan modernisme sangat familier, diilhami oleh renaissance, pergerakan kultural bermula di Italia pertengahan abad ke-14. Kemudian meluas ke seluruh Eropa. Modernisme mempunyai karakteristik dengan tiga unsur.

Pertama, akal budi manusia menjadi tolak ukur segala hal, mampu menguak hakikat kebenaran dan membimbing  manusia menuju kebahagiaan. Kitab suci bukan menjadi petunjuk bagi perkembangan masyarakat.

Kedua, ilmu pengetahuan diasumsikan bahwa alam bersifat mekanik dan matematis, dapat dianalisis secara induktif, yakni mencari hukum sebab akibat terhadap alam semesta hasilnya  perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan yang mengubah wajah bumi mencapai kemajuan.

Ketiga, antroposentris, memandang manusia pusat segalanya, baik dan buruk, manfaat dan tidaknya sesuatu ditentukan manusia.

Modernisme ditandai dengan pesatnya iptek, globalisasi arus informasi membawa manusia ke arah kemajuan yang menakjubkan. Namun apabila modernisme tidak dilandasi nilai-nilai spiritual, menyebabkan manusia mengalami krisis epistemologis, tidak lagi memiliki pengetahuan dan makna hidup, di sinilah tantangan dalam menyampaikan pesan-pesan agama di tengah kehidupan yang serba modern. Peran dakwah pada era modernisme sangat diperlukan, sebagai pemacu motivator maupun sebagai penangkal ekses-ekses negatif akibat modernisasi. Kondisi seperti efisiensi dan efektivitas dakwah dipertanyakan, banyak muncul gagasan bagaimana seharusnya dakwah dalam era modernisasi. Sebagai strategi pengembangan dakwah. Perhatikan Surat Ali Imran (QS:3:110). “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf. Dan mencegah dari yang munkar. Dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka: di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang munafik.”

Merujuk ayat di atas, dakwah merupakan tugas dan tanggung jawab setiap muslimin, maka muslimin harus merumuskan strategi dakwah dalam konteks kekinian, yang dapat memberikan imbangan, arahan, dan tuntunan bagi perkembangan iptek. Lebih jauh lagi, dapat dipersepsikan sebagai instrumen mencapai ketauhidan.

Dengan memahami berbagai hasil iptek, seperti globalisasi dan arus informasi, dalam tinjauan ilmu komunikasi  terdapat empat prinsip untuk dikaji bersama dalam melakukan dakwah  di era modernisasi, yakni sebagai berikut.

Prinsip sinergi, kegiatan dakwah akan bermakna jika diintegrasikan dengan yang lain. Dakwah harus berfungsi sebagai penyempurna bagi perkembangan aspek-aspek lainnya. Demikian juga dakwah harus mengacu pada prinsip terjadinya sinergi. Pelaku dakwah harus merupakan unsur dari sinergi.

Prinsip akumulasi, setiap yang disampaikan adalah suatu proses akumulasi kebenaran-kebenaran yang relatif. Artinya apa yang diampaikan tidak harus selalu diartikan sebagai langkah awal, tetapi  penyempurna dari langkah sebelumnya.

Prinsip konvergensi, dakwah harus dipersepsikan bermulti dimensi, yakni semua dimensi harus disentuh. Seluruh aspek kehidupan baik yang menyangkut kebutuhan maupun keinginan manusia  harus disentuh sehingga manusia tahu tugas kekhalifahannya (dimensi iman, ilmu, dan amal).

Prinsip inklusifistik, bermakna harus melihat siapa pun dalam kehidupan adalah bagian dari kita. Dakwah harus mampu menstimulasi rasa persaudaraan di antara sesama manusia, terlepas dari perbedaan etnis ataupun agama.

Dakwah hendaknya dilakukan setiap individu dengan penuh tanggung jawab dari berbagai dimensi hidup kehidupan manusia agar berjalan harmonis. Semoga. (Nia Kurniati Syam/Kepala Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung)

Unisba 3M: Mujahid, Mujtahid, Mujaddid. Website : https://www.unisba.ac.id

 

Source link

[ad_2]

Source link

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *